Bertani Tanpa Bakar

Melihat isu utama di daerah Sentap Kancang adalah karhutla. Lokasi dimana areal konsesi PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (Mopakha) berada di kelilingi oleh 12 desa di sekitar Ketapang. Mayoritas mata pencaharian masyarakat di salah satu desa ini adalah penebang kayu atau biasa disebut logger. Logger dari sekitar desa Kuala Satong bahkan terkenal hingga mancanegara. Sehingga agar masyarakat beralih mata pencaharian dari logger adalah dengan membuka lapangan pekerjaan sebagai alternatifnya.

Untuk di desa Tanjung Baik Budi, awalnya masyarakat bertani atau berkebun dengan cara membakar lahan sebagai area kebun atau pertaniannya, hal ini seringnya menyebabkan karhutla karena pengetahuan masyarakat mengenai hal ini masih terbatas.

 Beberapa upaya dari PT Mopakha menanggulangi masalah ini adalah dengan membuka lapangan kerja di perusahaan untuk masyarakat desa, memberikan edukasi, sosialisasi terhadap keterampilan penanggulangan karhutla, dan ada juga program-program kegiatan yang sudah disiapkan dan dilaksanakan oleh Tim Pemberdayaan Masyarakat Desa Hutan (PMDH) yang bekerjasama dengan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia atau biasa dikenal dengan YIARI Ketapang.

 Misalnya di desa Kuala Satong, yang ditonjolkan di desa ini adalah Ekowisata Mangrove, dimana saat ini sedang merencanakan untuk melakukan penanaman mangrove sebanyak 60,000 biji tapak. “Yaitu pengayaan tapak, menambal daerah-daerah yang kosong yang kosong, belum ada mangrovenya, yang tidak ada aktivitas masyarakat di lahan tersebut, dengan luas lahan kurang lebih 60 hektar,” disampaikan oleh Syahrani sebagai Ketua Kelompok Sadar Wisata Kuala Satong.

Kemudian menurut Galih Hakim Antarnusa, Supervisor Community Development Sungai Puteri Sentap Kancang dari YIARI yang bekerja untuk PT Mopakha, terkait dengan program kegiatan di desa Kuala Satong, “Kegiatannya saat ini untuk publikasi, jadi agenda rencana kegiatan di Kuala Satong Mangrove Center, saat ini program yang dijalankan baru untuk publikasi, pengenalan wilayah Mangrove Center kuala satong. Mulai dari branding, posting di media sosial yang kita punya, dan ada beberapa tambahan sebagai pendukung kegiatan utama disini. Namun sebenarnya banyak rencana kegiatan kedepannya, hanya saja saat ini teman-teman juga sedang banyak kegiatan, sehingga kita menyesuaikan dengan mereka.” Kegiatan penanaman mangrove ini juga membantu masyarakat secara ekonomi dan lingkungan, sebagai upaya menciptakan ekosistem mangrove yang tidak perlu membakar lahan. Dan nantinya hasil dari terciptanya ekosistem mangrove yang sehat akan menjadi habitat untuk beberapa satwa asli mangrove seperti ketam, kepiting, kerang jenis tertentu, dan lain lain.

 Berbeda dengan di desa Tanjung Baik Budi, Yandri Chandra sebagai Fasilitator Desa Tanjung Baik Budi sampai saat ini berhasil mengumpulkan 28 orang warga desa yang ikut bergabung dalam pertanian tebu dan membuka lahan pertanian juga dengan cara tanpa membakar. Awalnya Bang Yandri mengajak masyarakat menanam Ubi Gajah, namun mengalami kendala ketika harus memasarkannya, akhirnya beralih ke tebu dengan menjual tebu dan membuat gula tebu. Proses pengolahan gula tebu juga oleh masyarakat. Harapan Bang Yandri dari kegiatan ini, “Agar dapat meningkatkan perekonomian masyarakat desa dan mendukung penanggulangan karhutla. Kami menanam di area yang dulunya pernah terbakar, agar area tersebut tidak menjadi lahan tidur dan bisa dimanfaatkan oleh kami.” Karena ketika lahan tersebut ditanami dan memiliki kontribusi secara ekonomi kepada masyarakat maka otomatis masyarakat juga akan menjaga lahan sekitarnya dari bahaya karhutla. “Hal ini terbukti dari 2 tahun terakhir sudah tidak ada lagi kejadian karhutla besar,” menurut Bang Yandri.

 Tim PMDH memberikan bekal ilmu kepada masyarakat desa sekitar area konsesi mengenai pertanian, cara membuka lahan tanpa membakar, sosialisasi dan juga penanganan karhutla. Ternyata banyak yang dapat dilakukan untuk membuka lahan pertanian atau perkebunan dengan cara tanpa membakar. Dengan memetakan dan melihat potensi desa tersebut, bekerjasama dengan masyarakat dan pihak kepentingan lainnya maka ada solusi dari bertani atau berkebun tanpa membakar. Semoga seterusnya PT Mopakha dan masyarakat desa saling mendukung demi ekonomi dan lingkungan bersama yang lebih baik ya!

 

Author: Mayo for PT Mohairson Pawan Khatulistiwa. 2021

Bagikan Artikel Ini:

Artikel Lainnya

18 February 2026

By mopakha

Model Ekonomi Berkelanjutan: Dari Benih Mandiri Hingga Skalabilitas Keramba di Tanjungpura

Di pesisir sungai Desa Tanjungpura, sebuah transformasi ekonomi sedang berlangsung….

Baca Selengkapnya

16 October 2025

By mopakha

Ketahanan Pangan Bisa Dimulai dari Desa: Budidaya Lele Desa Sukamaju

Ketapang, Kalimantan Barat — Di tengah tantangan logistik dan keterbatasan…

Baca Selengkapnya