Menurut data BPS per 30 Desember 2021 jumlah penduduk perempuan di Indonesia sebanyak 135,576,278 jiwa atau 49,5% dari 273,879,750 jiwa. Yang artinya lebih banyak penduduk laki-laki. Namun tidak sedikit perempuan yang memilih untuk melakukan pekerjaan yang pada umumnya dilakukan oleh kaum lelaki. Contohnya terjadi di Desa Suka Maju, Kabupaten Ketapang. Seorang perempuan mengajak 24 orang perempuan lainnya untuk melakukan patroli untuk menjaga kawasannya dari kebakaran hutan dan lahan. Berusia 52 tahun, Bu Maimun berkeinginan agar wilayah di desanya bisa mandiri, tidak hanya melakukan patroli kebakaran hutan dan lahan, beliau juga ingin perempuan di desanya bisa berdaya. Beliau mengajak ibu-ibu lain untuk menanami pekarangan rumahnya masing-masing dengan tanaman sayur, seperti sawi, cabai, sayur-sayuran yang hasilnya minimal bisa dikonsumsi sendiri. Setelah tanaman sayur bisa berjalan, kemudian mereka juga menanam jagung dan bulan Mei 2022 kemarin sudah berhasil panen untuk yang kedua kalinya. Bahkan karena hasil panen melebihi untuk konsumsi pribadi, jagung tersebut bisa dijual ke pasar, dimana hasil penjualannya dibagi bersama anggota kelompok.
Untuk komoditi Desa Suka Maju sendiri adalah padi, sehingga mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani. Oleh karena itu sebelum menjalankan program ini, Bu Maimun sudah bergabung di kelompok tani Tunas Baru yang memang mengerjakan pertanian padi. Bu Maimun tidak keberatan dengan komposisi jenis kelamin sebagai perempuan satu-satunya di kelompok ini, karena beliau sendiri sudah terbiasa berorganisasi sedari usia muda. Beliau ingin perempuan di desanya tidak hanya kumpul-kumpul yang tidak jelas dan tidak menghasilkan apapun, namun harus menjadi manfaat. Karena itulah kemudian dibentuk kelompok Srikandi Berjaya.
Pekarangan rumah Bu Maimun dijadikan demplot atau area percontohan penanaman tanaman-tanaman sayur dan jagung, kemudian setelah bisa tumbuh dengan baik, anggota kelompoknya menanam di area pekarangannya masing-masing. Dengan pembekalan sebagai relawati api dan pendampingan dari sektor pertanian yang dilakukan melalui program pemberdayaan masyarakat oleh YIARI (Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia) yang bekerjasama dengan PT Mohairson Pawan Khatulistiwa, selama 2 tahun pendampingan, Bu Maimun yang pada awalnya memiliki anggota 15 orang, berhasil mengumpulkan 25 orang untuk bergabung dalam kelompok Srikandi Berjaya, demikian kelompok ini diberi nama. Selain pembekalan dan pendampingan rutin, kelompok Srikandi Berjaya juga sering berkumpul untuk diskusi banyak hal terkait kegiatan mereka. Beberapa diantaranya adalah rencana menambah jenis tanaman labu kuning, memperluas area penanaman bersama, dan juga penggunaan pupuk organik untuk tanaman mereka.
Tanah mineral di Desa Suka Maju sendiri memiliki tekstur berpasir lebih kering, menurut Bu maimun lebih gersang daripada tanah mineral biasa, dan agak sulit ditanami jika tidak dibantu dengan pupuk. Selama ini pekarangan mereka hanya ditumbuhi dengan gulma semak belukar, maka program yang mereka jalankan ini akan sangat bermanfaat untuk masyarakat. Pendampingan pembuatan pupuk kompos juga dilakukan untuk menangani masalah ini. Terbuat dari sekam padi, kotoran sapi, hijauan (dedaunan atau tanaman), sebanyak 3 ton pengolahan pupuk kompos dilakukan sendiri oleh anggota kelompok. Tidak hanya itu, bahkan para perempuan ini melakukan penyemprotan hama dan mengendarai traktor sendiri.
Sesuai dengan nama desanya, Desa Suka Maju, perempuan berdaya di desa ini pemikirannya sungguh maju!

