RS-GIS, Remote Sensing dan Geographic Information System, yaitu merupakan sistem informasi geografis dengan cara penginderaan jarak jauh. Di PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (PT Mopakha) sendiri Departemen RS-GIS diperlukan sebagai pendukung departemen lainnya.
Terkait dengan fungsi RS-GIS terhadap PT Mopakha, Iwan Kurniawan Permadi, Direktur Perencanaan dan Pengembangan RS-GIS mengatakan, “Bahwa RS-GIS adalah salah satu tools, sebagai mata dalam membuat rencana pengelolaan, monitor dan lain sebagainya. Adanya RS-GIS mempermudah pekerjaan, karena dapat menjadi early warning system, misalnya untuk hotspot atau titik api terlihat awalnya dari satelit, menjadi warning, kemudian oleh tim dilihat langsung ke lapangan. Dalam hal ini lebih ke karhutla, yang menjadi ancaman terbesar bagi bisnis kita.”
Disampaikan oleh Marwan Djumhaer, Spesialis Senior RS-GIS PT Mopakha, “Jadi kalau kita bicara keruangan, spasial, dan lahan dalam bisnis kehutanan, terbagi menjadi 2 hal yang memerlukan hasil analisis itu proses GIS dan Remote Sensing. Untuk GIS sendiri mengolah semua data yang berhubungan dengan keruangan atau lahan, dengan kondisi real di lapangan. Kemudian selanjutnya adalah Remote Sensing, kalau dalam bahasa indonesia artinya penginderaan jarak jauh, jadi ini berhubungan dengan gambar, citra, data-datanya kita butuhkan sebagai data dasar analisis kedepannya.”
Apa saja data yang diperlukan untuk perusahaan? Ada banyak sekali output hasil dari penginderaan jarak jauh yang disusun oleh tim RS GIS di PT Mopakha, dari berupa peta yang disesuaikan berdasarkan kebutuhan masing-masing departemen, sampai data analisis yang sulit dimengerti oleh orang awam.
Misalnya untuk departemen Biodiversity, membutuhkan peta grid area konsesi untuk memasang kamera jebak. Agar titik letak kamera jebak yang dipasang menghasilkan data dapat mewakili isi konsesi secara keseluruhan diperlukan analisis data terkait hal ini. Maka departemen Biodiversity berkoordinasi dengan departemen RS GIS agar menghasilkan data yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Ini hanya penjelasan sederhananya saja, namun pada kenyataannya proses pengerjaannya lebih rumit dari ini menurut teman-teman yang bekerja di departemen ini. Bahkan penulis juga merasa kesulitan menuangkan ke dalam sebuah tulisan yang mudah dimengerti, dari apa yang sudah disampaikan oleh narasumber. Karena pekerjaan yang dilakukan oleh tim RS GIS sangat teknis dan spesifik.
Dicontohkan oleh Yoga Rudianto selaku Analis RS-GIS PT Mopakha, “Misalnya untuk menentukan Inventarisasi Karbon Hutan Berkala (IKHB), tim dari Pembinaan Hutan (Binhut) sudah mengambil sampel di lapangan dan hanya memiliki atau menghasilkan 32 sampel, sedangkan yang kita butuhkan untuk mencakup seluruh kawasan itu adalah ribuan sampel. Bagaimana caranya hasil pengambilan sampel tersebut dapat mewakili keseluruhan kawasan, maka ada data statistik yang harus dianalisa agar menjangkau kawasan secara luas.” Sebenarnya proses detail dari perhitungan karbon ini lebih panjang lagi. “Untuk analisis vegetasi: dari membuat plot dengan ukuran tertentu, kemudian identifikasi tumbuhan: diameter, tinggi, dan lain-lain. Kemudian memperhatikan semai, tiang, pancang, pohon, dan bagian-bagiannya, karena setiap bagian memiliki nilai yang beda-beda, pada umumnya karbon itu dihitung dari akar, batang, batang itu sendiri pun pangkalnya berbeda-beda,” tutup Yoga.
Namun apa yang dikerjakan oleh tim RS-GIS ini tidak hanya sebatas analisa dibelakang sistem atau layar, karena tidak jarang mereka harus tetap turun melihat langsung untuk mengetahui apakah kondisi lapangan sudah sesuai dengan analisis data penginderaan jarak jauh yang sudah mereka lakukan.
Penjelasan oleh Marwan Djumhaer, Spesialis Senior RS-GIS PT Mopakha, “Ada banyak faktor yang mengakibatkan misinterpretasi dari hasil penginderaan jarak jauh ini, misalnya tertutup oleh awan, ada bias dari kabut, dan juga sebab lainnya. Maka perlu diadakan survei langsung ke lapangan. Selain data dari satelit, kita juga punya data citra berupa pengambilan langsung dari lapangan, contohnya dari drone. Drone pasti terbang di bawah awan, jadi kemungkinan data – data yang diperoleh bisa lebih bagus dan lebih akurat dibandingkan dengan citra yang kita provide dari satelit.”
Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa penginderaan jarak jauh melalui sistem dan satelit yang sudah dikerjakan oleh tim RS-GIS terkadang tidak sesuai dengan kondisi nyata di lapangan karena beberapa hal dapat menjadi noise dalam prosesnya, sehingga mereka tetap harus turun untuk melihat dan mencocokan langsung antara data dengan kondisi sebenarnya agar dapat menemukan solusi terbaik dari masalah yang terjadi. Ekspektasi terkadang memang tidak sesuai dengan realitanya ya. Tetap semangat tim RS-GIS!

