Jumlah Sarang Orangutan, Bukan Hanya Sekedar Angka: Pelajaran dari Gambut Sentap Kancang

Ketapang, Kalimantan Barat – Tim PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (Mopakha) bersama mitra – Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melakukan survei sarang orangutan dan monitoring biodiversitas di hutan gambut Sentap Kancang. Kegiatan ini menghasilkan data penting tentang kondisi ekosistem dan hubungannya dengan kesejahteraan masyarakat setempat.

Survei sarang orangutan yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali ini bertujuan memantau populasi satwa kunci tersebut, dimana orangutan merupakan Penjaga Rantai Ekosistem. Data tahun 2025 mencatat 207 sarang orangutan, hasilnya meningkat dari 183 sarang pada tahun 2020. “Ini menjadi indikator bahwa kondisi habitat terjaga dengan baik”, menurut Tim Survey Mopakha.

Jumlah sarang bukan merupakan komponen satu-satunya dalam kegiatan ini, kombinasi kondisi kualitas sarang, sumber makanan – pohon berbuah, musim, camera trap merupakan indikator dalam peningkatan jumlah individu orangutan.

Orangutan berperan vital dalam ekosistem, mereka membantu penyebaran biji tanaman, menjaga regenerasi hutan, dan mendukung keseimbangan rantai makanan. Keberadaan orangutan menjadi penanda kesehatan lingkungan yang juga menopang sumber daya alam bagi masyarakat sekitar.

Camera trap dan pengamatan langsung mengungkap kehadiran berbagai satwa lain: Owa Kalimantan, Kelempiau, Kancil, Beruang madu, Ular kapak hijau Kalimantan, hingga Trenggiling. Setiap spesies memegang peran khusus — ular mengontrol populasi reptil yang lebih kecil seperti kodok, kadal, sedangkan trenggiling mengontrol populasi serangga, kemudian semut membantu penguraian bahan organik, sedangkan predator seperti macan dahan menjaga keseimbangan populasi hewan kecil.

Keanekaragaman hayati ini bukan sekadar daftar spesies. Ia adalah jaring kehidupan yang saling bergantung. Ketika satu bagian hilang, keseimbangan terganggu, dan dampaknya bisa meluas hingga ke kehidupan manusia, misalnya menurunnya ketersediaan pangan alami atau meningkatnya hama pertanian.

Masyarakat di sekitar Sentap Kancang memanfaatkan hasil hutan bukan kayu seperti madu, buah-buahan, dan tanaman obat. Semua ini bergantung pada ekosistem yang sehat. Fenomena fenologi — siklus berbuahnya pohon — sangat dipengaruhi musim dan ketersediaan air. Ketika keanekaragaman hayati terjaga, siklus ini stabil, sehingga hasil hutan tetap tersedia.

“Kondisi habitat di jalur transek sangat baik, tidak ada bekas logging atau perburuan. Satwa punya cukup pakan, dan ini mendukung seluruh rantai ekosistem, termasuk manusia,” ungkap M. Jakaria, selaku Data Analis Biodiversity Mopakha, yang juga ikut dalam kegiatan survei.

Data yang dikumpulkan — mulai dari seperti sarang orangutan, perpendicular distance, panjang transect, dokumentasi kamera— akan digunakan untuk menghitung kepadatan sarang. Analisis ini membantu merancang strategi konservasi yang lebih efektif, dan memastikan bahwa keberadaan orangutan masih terjaga jumlahnya di hutan sentap kancang. Harapannya hutan, satwa, dan manusia bisa hidup berdampingan secara berkelanjutan.

Pelajaran yang dapat diambil adalah pelestarian keanekaragaman hayati bukan hanya tentang menyelamatkan satwa liar, tetapi juga tentang menjaga keberlangsungan hidup manusia. Dari udara bersih, air yang terjaga, hingga sumber pangan dan obat alami, semua bergantung pada ekosistem yang utuh. “Hutan yang sehat, mendukung kehidupan masyarakat,” demikian filosofi yang terus dipegang oleh tim lapangan Mopakha.

Bagikan Artikel Ini:

Artikel Lainnya

18 February 2026

By mopakha

Model Ekonomi Berkelanjutan: Dari Benih Mandiri Hingga Skalabilitas Keramba di Tanjungpura

Di pesisir sungai Desa Tanjungpura, sebuah transformasi ekonomi sedang berlangsung….

Baca Selengkapnya

16 October 2025

By mopakha

Ketahanan Pangan Bisa Dimulai dari Desa: Budidaya Lele Desa Sukamaju

Ketapang, Kalimantan Barat — Di tengah tantangan logistik dan keterbatasan…

Baca Selengkapnya