Ketapang, Kalimantan Barat — Di tengah tantangan logistik dan keterbatasan akses pasar, masyarakat Desa Sukamaju menunjukkan bahwa ketahanan pangan bisa dimulai dari kolam di halaman rumah. Melalui pendampingan teknis dan dukungan permodalan dari Mopakha bersama Tim Pemberdayaan Masyarakat – Ayo Bangun Usaha Mandiri (AYO BANG USMAN), warga Desa Sukamaju kini mampu mengelola budidaya lele secara mandiri dan berkelanjutan.
Pada budidaya lele masyarakat dampingan Perusahaan, Syaiful Bahri, dari 3.000 bibit yang ditebar, hanya dua ekor yang mati di tahap awal pembesaran. Angka ini mencerminkan efektivitas pengelolaan air, indukan, dan metode budidaya yang diterapkan. Dengan siklus panen setiap tiga bulan, masyarakat tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumsi lokal, tetapi juga mulai menjangkau pasar di Ketapang hingga Kalimantan Tengah. “Permintaan lele ini masih belum terpenuhi, sehingga saya rasa ini dapat menjadi peluang usaha juga bagi warga lainnya,” ujar Syaiful Bahri. Dengan tingkat kematian bibit yang sangat rendah dan siklus panen yang konsisten, budidaya lele di desa ini menjadi contoh bagaimana inovasi lokal dapat menjawab kebutuhan konsumsi harian sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

Larva usia 14 hari diberi pakan MEM (Micro Extruded Marumized) untuk meningkatkan kualitas nutrisi larva lele
Meski sistem budidaya menunjukkan hasil positif, tantangan terbesar masih terletak pada logistik pakan. Ketergantungan pada pasokan dari Jawa membuat harga pakan tinggi dan tidak stabil. Tantangan utama seperti ini mendorong riset pakan alternatif berbasis limbah pertanian — sebuah langkah kecil menuju kemandirian produksi. Untuk menjawabnya, Tim Pemberdayaan Masyarakat kini tengah meneliti pakan alternatif berbasis limbah pertanian seperti magot, dedak, dan tepung ikan lokal. Langkah ini bukan hanya soal efisiensi biaya, tetapi juga bagian dari upaya membangun sistem produksi yang lebih mandiri dan ramah lingkungan.
Program ini juga memperlihatkan bagaimana data lokal bisa berkontribusi pada strategi nasional. Pada data KKP Produksi lele Indonesia yang mencapai 1,14 juta ton pada 2023 menunjukkan potensi besar, dan Desa Sukamaju kini menjadi bagian dari rantai pasok yang lebih luas. Di tingkat provinsi, data BPS Kalbar menunjukkan Kabupaten Ketapang menyumbang 3.709 ton produksi lele pada tahun 2022. “Diharapkan produksi dari Desa Sukamaju dapat turut berpartisipasi pada peningkatan pasokan budidaya daerah”, tambah Supardi selaku Kepala Desa Sukamaju.
Program ini menunjukkan bahwa data lokal bisa menjadi bagian dari strategi nasional. Ketika masyarakat desa diberi ruang untuk berkembang, mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga aktor penting dalam ekosistem pangan nasional.
Alih-alih menjadi program CSR biasa, budidaya lele di Desa Sukamaju berkembang menjadi gerakan komunitas yang mengedepankan keberlanjutan. Pendekatan teknis yang sederhana — seperti pengelolaan air dan aerasi — menghasilkan dampak nyata: panen stabil, kualitas ikan meningkat, dan permintaan pasar terus tumbuh.
Usaha budidaya ikan lele dari masyarakat Desa Sukamaju seperti Syaiful Bahri menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu datang dari teknologi canggih, tetapi dari pendampingan yang konsisten dan pemanfaatan sumber daya lokal. Ketika harga pakan menjadi tantangan, masyarakat tidak menyerah — mereka mencari solusi dari alam sekitar.
Budidaya lele di Desa Sukamaju bukan sekadar cerita sukses lokal. Ini adalah refleksi dari bagaimana pendekatan berbasis komunitas, pendampingan teknis, dan pemanfaatan sumber daya lokal dapat membentuk sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan.
Dengan semangat kolaborasi dan keberlanjutan, keberhasilan ini bentuk nyata dari visi Mopakha untuk terus melangkah maju — menyatukan ekonomi, ekologi, dan sosial: hutan yang lestari, masyarakat yang sejahtera.
