Keterbatasan Akses Pendidikan Tidak Membatasi Keinginan Belajar

Kegiatan berbagi ilmu dengan 17 orang pemuda desa penyangga sekitar area Sentap Kancang (Desa Ulak Medang dan Melawi), berlangsung sekitar 4 jam dan terdiri dari 3 sesi, di Camp Persemaian PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (PT Mopakha), Desa Sungai Awan Kiri, pada tanggal 10 November 2022. Beberapa materi yang disampaikan oleh PT Mopakha antara lain mengenai alur komando jika terjadi kebakaran hutan dan lahan, alat pelindung diri dan keselamatan kerja, dasar komunikasi dan etika dalam bekerja, dan gambaran tentang perusahaan secara umum. Mungkin hal ini terlihat seperti pembekalan atau belajar biasa, namun jika dilihat dari latar belakangnya, maka Anda akan menyadari bahwa kegiatan ini luar biasa.

Berawal dari maraknya deforestasi di area konsesi perusahaan di Sentap Kancang, akibat penebangan kayu ilegal. Akses pendidikan yang terbatas, membuat pemuda dari beberapa desa ini minim keterampilan sehingga menjadi pengangguran atau mengikuti jejak orang tua mereka yang menjadikan hutan sebagai sumber mata pencaharian, sedangkan tingkat kerusakan hutan semakin tinggi. Hal ini sangat disayangkan karena pemuda-pemuda ini punya mimpi yang cukup besar, menjadi pengusaha dari sektor pertanian salah satunya. Mimpi ini dapat menjadi potensi perubahan apabila akses pendidikan dan keterampilan lebih mudah menjangkau mereka.

Jika merujuk pada peraturan UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Pasal 12 ayat 1), perubahan menjadi naskah RUU Sisdiknas Agustus 2022 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Bab IV pasal 17) dinyatakan Jalur Pendidikan terdiri atas pendidikan formal dan non-formal, dan pembelajaran informal. Melalui Kahiu Academy, bagian Edukasi dari YIARI (Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia) yang ditugaskan untuk mendampingi PT Mopakha, menyasar jalur pendidikan informal, mengupayakan agar pemuda lokal dari desa penyangga bisa mempunyai wawasan berbasis konservasi dan lingkungan, memiliki kapasitas yang memadai dan keterampilan baru untuk memanfaatkan lahan tani dan keahlian dasar di dunia kerja. Pelatihan yang diselenggarakan berupa pembekalan yang mampu meningkatkan keterampilan dan pengetahuan sehingga produktivitas dan kualitas pemuda lokal di desa tersebut membaik dan dampak turunannya adalah berkurangnya ancaman terhadap kawasan hutan.

Inklusi pendidikan dan ekonomi bukan halusinasi, dapat dicapai jika pihak yang berkaitan bisa bekerja sama saling membantu untuk mewujudkannya.

 

Author: Mayo for PT Moharison Pawan Khatulistiwa. 2022

 

Author : MY, 2022

Bagikan Artikel Ini:

Artikel Lainnya

18 February 2026

By mopakha

Model Ekonomi Berkelanjutan: Dari Benih Mandiri Hingga Skalabilitas Keramba di Tanjungpura

Di pesisir sungai Desa Tanjungpura, sebuah transformasi ekonomi sedang berlangsung….

Baca Selengkapnya

16 October 2025

By mopakha

Ketahanan Pangan Bisa Dimulai dari Desa: Budidaya Lele Desa Sukamaju

Ketapang, Kalimantan Barat — Di tengah tantangan logistik dan keterbatasan…

Baca Selengkapnya