Mopakha Jalankan CSR-CSV Demi Hutan Lestari

Sebelumnya pasti Anda sering mendengar sebelumnya mengenai CSR atau Corporate Social Responsibility, yang menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, CSR adalah tanggung jawab sosial dan lingkungan yang merupakan komitmen perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya. Namun apakah CSV itu? CSV kepanjangan dari Corporate Shared Value, dan definisi Corporate Shared Value oleh Kramer dan Porter sebagai sebuah alat untuk membangun nilai ekonomi yang dapat memberikan nilai tambah kepada masyarakat dan menyelesaikan permasalahan. CSV merupakan pengembangan dari konsep CSR, sama-sama merupakan tanggung jawab sosial perusahaan.

Mopakha adalah salah satu perusahaan yang sudah menjalankan kedua program tersebut sejak tahun 2019, awal perusahaan berganti manajemen. CSR di Mopakha berjalan sejak tahun 2020, biasa disebut dengan Kontribusi Komunitas. Diberikan kepada masyarakat atau suatu kelompok organisasi dengan prioritas untuk dukungan kemanusiaan pada tragedi kebencanaan, sektor lingkungan, pendidikan, kesehatan termasuk juga olahraga, acara adat, memperbaiki infrastruktur, yang salah satu tujuannya untuk mendukung kualitas hidup masyarakat sekitar agar menjadi lebih baik. Sedangkan untuk CSV sendiri sudah berjalan sejak awal perusahaan ini berganti manajemen di tahun 2019, melalui satu divisi khusus yaitu PMDH – Pembinaan Masyarakat Desa Hutan, dengan tujuan untuk menjalankan program pertanian, perikanan, mangrove, ecopolybag di buffer area sekitar hutan konsesi perusahaan berada. Data tim PMDH menyatakan bahwa 37 orang jumlah penerima manfaat yang merupakan mantan pembalak liar.

Dengan target utama adalah para pembalak liar, misalnya program perikanan di Desa Ulak Medang dan agroforestri di Desa Tanjung Pura. Bertujuan agar mereka memiliki keahlian selain merambah kayu di hutan, sehingga hal tersebut diharapkan dapat membuat kualitas hidup mereka menjadi lebih baik lagi. Tidak terbatas pada 2 program diatas saja, melalui tim PMDH Mopakha juga memberikan pendampingan untuk pembuatan pupuk organik cair dan padat (POC/P), agar masyarakat tidak tergantung pada pupuk kimia yang selama ini digunakan. Beberapa diantaranya untuk perkebunan tebu dan jagung di Desa Tanjung Baik Budi, dan di Desa Kuala Tolak, atau perkebunan pekarangan tanaman sayur dan jagung di Desa Sukamaju. Dengan berfokus pada lingkungan yang lebih sehat, POC/P ini memiliki keuntungan dengan sudah terbukti memiliki dampak yang lebih baik kepada keberlanjutan unsur hara pada tanah dibandingkan dengan pupuk kimia dan juga harga yang cenderung lebih murah daripada pupuk kimia. Karena bahan dasar pupuk organik cair dan padat tersedia lebih mudah didapatkan, terbuat dari sisa makanan, kulit buah, hijauan, kotoran hewan, dan yang lainnya.

Selain itu masyarakat desa juga dibekali dengan keterampilan dalam pemadaman kebakaran hutan dan lahan, dengan terbentuknya para Relawan Api yang terlatih untuk pemadaman karhutla baik dengan penggunaan alat mekanik, maupun secara manual. Karena jika melihat latar belakang masalahnya masyarakat terbiasa untuk membuka lahan dengan cara termurah yaitu membakar, dan tidak jarang api dari pembakaran lahan tersebut menjalar ke perkebunan lain disekitarnya, sehingga kebakaran meluas dan tidak dapat dikendalikan. Data dari divisi Perlindungan dan Pengamanan Hutan (PPH) Mopakha menyebutkan bahwa sejak 2022 sudah dilakukan 13 kali pelatihan Pemadaman Karhutla kepada masyarakat dan juga Relawan Api.

Namun tidak semua rencana baik itu berjalan mulus, tetap banyak batu kerikil bahkan batu besar yang Mopakha hadapi. Beberapa diantaranya adalah sulitnya mengubah perilaku masyarakat agar beralih dengan membuka lahan tanpa bakar, atau menghidupi keluarga dari kegiatan yang merusak alam. Terbukti sampai saat artikel ini dibuat, masih sering terjadi kebakaran di area mereka akibat pembukaan lahan dengan cara membakar. Akan tetapi Mopakha tetap berusaha melakukan yang terbaik demi kelestarian hutan gambut terakhir yang tersisa di Kalimantan Barat.

Bagikan Artikel Ini:

Artikel Lainnya

18 February 2026

By mopakha

Model Ekonomi Berkelanjutan: Dari Benih Mandiri Hingga Skalabilitas Keramba di Tanjungpura

Di pesisir sungai Desa Tanjungpura, sebuah transformasi ekonomi sedang berlangsung….

Baca Selengkapnya

16 October 2025

By mopakha

Ketahanan Pangan Bisa Dimulai dari Desa: Budidaya Lele Desa Sukamaju

Ketapang, Kalimantan Barat — Di tengah tantangan logistik dan keterbatasan…

Baca Selengkapnya