Dari data Publikasi Indikator Pertanian tahun 2020 menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Bruto (PDB) dari sektor pertanian mampu tumbuh positif selama tahun 2020 dan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah resesi akibat pandemi COVID-19. PDB sektor pertanian menjadi penyumbang tertinggi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II tahun 2020 (year on year) yang awalnya turun 5,32%. Kemudian PDB pertanian tumbuh 16,24% pada triwulan II tahun 2020 (quarter to quarter) dan bahkan secara year on year sektor pertanian tetap berkontribusi positif, yakni tumbuh 2,20%. Pertumbuhan ekonomi sektor pertanian secara year on year tahun 2020 pada triwulan III sebesar 2,16% dan IV sebesar 2,59%. Sehingga kontribusi dari sektor pertanian dan perburuan terhadap PDB tahun 2020 sebesar 0,20%. Meningkat sebelumnya tahun 2019 sebesar 0,19%.
Untuk sub kategori perikanan memiliki kontribusi sebesar 2,80% terhadap PDB tahun 2020.
Hal ini merupakan peluang bagi PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (PT Mopakha) untuk terus mengembangkan penelitiannya di bidang pertanian yang sedang dilaksanakan, saat ini salah satunya adalah tanaman Serai Wangi. Tim Penelitian dan Pengembangan (RnD – Research and Development) dari PT Mopakha berharap agar kegiatan penelitian dan pengembangan yang sudah dilakukan selama ini dapat berhasil. Sehingga bisa berdampak positif pada sektor ekonomi masyarakat sekitar dan juga untuk perusahaan. Namun proses dalam mencapainya tidak sesederhana kalimat harapan tersebut.
Kita mulai dari apa saja penelitian dan pengembangan yang sedang dilakukan oleh tim RnD PT Mopakha?
3 kegiatan utama yang saat ini sedang dilakukan, yaitu pengembangan Serai Wangi, budidaya Ikan Toman dan juga pengembangan Kurma di demplot Laman Satong.
Ginanjar, Manajer RnD dari PT Mopakha menyampaikan bahwa, “Secara garis besar ada 3 tahap proses yang dilakukan pada 5 tahun pertama. Yaitu proses uji coba penanaman, lalu demplot berskala kecil, dan kemudian pengembangan ke masyarakat. Yang saat ini sedang kita lakukan adalah uji coba pada plot kecil, setelah jenis budidaya sudah dipilih, tahun 2022 rencananya akan naik ke skala yang lebih besar – sekitar 2 Ha. Setelah itu varietasnya banyak, yaitu ada tanaman pertanian, perkebunan, dan termasuk juga untuk silvofishery. Target untuk silvofishery sendiri 15,000 bibit Ikan Toman di area kanal, saat ini baru 200 bibit. Rencananya akan ditambahkan 500 bibit Ikan Toman lagi.” Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, silvofishery atau wanamina adalah perpaduan sistem perikanan dengan hutan bakau. Namun silvofishery yang sedang diteliti dan dikembangkan kali ini adalah di area kanal di sekitar hutan konsesi gambut PT MPK. “Saat ini budidaya Ikan Toman sedang dilihat daya hidupnya di kanal yg sudah ada di Sungai Awan Kiri, walaupun tidak sebagus di sungai, ternyata di kanal daya hidupnya cukup baik, bisa dikembangkan & dapat memiliki nilai ekonomi,” tutup Ginanjar.
Informasi yang disampaikan oleh Supervisor RnD PT Mopakha, M. Irfan Danu, “Untuk tanaman Serai Wangi yang pembibitannya dilakukan pada November 2020 dan budi daya Ikan Toman bulan Januari 2020, sudah mulai terlihat baik hasilnya. Budidaya Ikan Toman saat ini sudah siap panen, dengan berat 1,2 kg/ekor. Untuk Serai Wangi sedang dalam tahap uji kualitas rendemen yang berasal dari 2 demplot yaitu di Laman Satong dan Sungai Awan Kiri. Dilihat dari hasil awal yang disuling menghasilkan berapa banyak dan untuk kualitasnya seperti apa nanti akan dibawa untuk penelitian di Bogor. Tahap selanjutnya akan dikembangkan ke skala yang lebih besar dan jika berhasil, maka akan diperlihatkan ke masyarakat. Salah satu kelebihan yang dapat disampaikan ke masyarakat adalah tanaman Serai Wangi ini tidak perlu pemeliharaan setiap hari, hanya perlu sebulan sekali untuk pemeliharaan sampai bulan ke 8 atau 9 untuk panen.”
Tanaman Serai Wangi ini tetap bisa hidup walaupun bukan merupakan tanaman asli area tersebut, dapat ditanam di area yang miskin hara dan tidak produktif, seperti area gambut yang masih kosong di sekitar area konsesi PT Mopakha yaitu di bagian kanan dan kiri sepanjang Tanjung Pura. Tanaman yang ditanam di area tidak produktif ini adalah tanaman yang bukan merupakan jenis infasif (tanaman luar yang dapat membuat membuat tanaman lain yang sudah ada bisa mati) dan tanaman kehutanan, yaitu bukan tanaman kehutanan adalah tanaman yang dapat menyebabkan tegakan hutan yang sudah ada menjadi kalah bersaing, sehingga dikuasai tanaman dari luar ini. Jika tanaman infasif atau kehutanan digunakan hanya untuk penelitian dan pengembangan pertanian yang pertumbuhannya masih dapat dikendalikan, maka dapat dilakukan. Salah satu contoh tanaman infasif adalah Akasia yang saat ini sebenarnya sudah ada di sekitar area Tanjung Pura. Hal ini berbahaya karena Akasia biasanya tumbuh semakin banyak di area yang pernah terbakar.
Menurut data dari laman Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, minyak Serai Wangi Indonesia dikenal dengan nama Java Citronella Oil, dengan sentra pengembangan serai wangi saat ini terdapat di Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Lampung, Sumatera Utara, Barat dan Selatan, Aceh, Jambi, Sulawesi Tenggara dan Utara, Kalimantan Timur, Kep. Bangka Belitung, Bali, NTB dan NTT. Manfaat minyak Serai Wangi sangat beragam antara lain sebagai bahan baku industri sabun, parfum, kosmetik, antiseptik, aromaterapi, dan sebagai bahan aktif pestisida nabati. Saat ini Indonesia merupakan pemasok minyak Serai Wangi kedua setelah RRC. Konsumsi minyak Serai Wangi dunia mencapai 2.000- 2.500 ton/tahun, sedangkan RRC memasok hanya 600-800 ton/tahun. Sehingga masih terbuka peluang untuk Indonesia dapat memenuhi kebutuhan pasar dunia tersebut, kata Kasdi Subagyono, Direktur Jenderal Perkebunan dari Kementerian Pertanian. Tidak hanya itu, tanaman Serai Wangi juga dapat dimanfaatkan sebagai tanaman konservasi pada lahan kritis, baik untuk penghijauan pada lahan-lahan yang terkena erosi maupun reklamasi pada lahan bekas tambang dan lahan gambut. (Dikutip dari: https://ditjenbun.pertanian.go.id/serai-wangi-kaya-akan-manfaat-dan-peluang-yang-menjanjikan/) Menilik informasi pasar dunia dari tanaman Serai Wangi ini, menimbulkan harapan yang baik bagi tim RnD untuk terus mengembangkan penelitian dan ujicoba tanaman Serai Wangi. Ditambah lagi jika melihat manfaat dari tanaman Serai Wangi yang dapat berfungsi baik untuk konservasi pada lahan kritis, penghijauan lahan yang terkena erosi atau reklamasi lahan gambut yang sesuai dengan kondisi lahan di areal konsesi PT Mopakha.
Masih dikutip dari laman Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, dengan melihat peran komoditas Serai Wangi dan hasil olahannya yang telah memberikan kontribusi bagi negara dan petani khususnya, tentunya harus didukung dalam suatu perencanaan yang menyeluruh, terpadu dan sinergis baik jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang, dengan melibatkan seluruh stakeholder yang terkait dengan sistem dan usaha Serai Wangi selain itu perlu juga didukung oleh kemampuan sumber daya manusia yang menguasai dan mampu menerapkan teknologi spesifik lokasi tersebut, serta mampu mengorganisir diri dalam kelembagaan yang kuat atau koperasi petani yang menekankan pada penumbuhan kemitraan antara petani produsen dengan pabrik pengolahan. Sehingga demi keberhasilan kegiatan yang sudah dilakukan tim RnD ini diperlukan keterlibatan dan dukungan dari banyak pihak dari segi perencanaan sampai pemasaran hasil produksinya.
Author: Mayo for PT Mohairson Pawan Khatulistiwa. 2021

