Menganyam Harapan: Ecopolybag Pandan untuk Masa Depan Mangrove

Sebelum membahas apa itu Jenjamut, kita akan mulai dengan mengulas kondisi geografis Desa Sungai Puteri, kemudian potensi dan juga kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di Desa Sungai Puteri.

Lokasi Desa Sungai Puteri berada di Kabupaten Ketapang, provinsi Kalimantan Barat. Masyarakat di desa ini menjadi salah satu target untuk program pemberdayaan masyarakat oleh tim PMDH (Pemberdayaan Masyarakat Hutan dan Desa) dari YIARI (Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia) yang ditugaskan untuk mendampingi PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (Mopakha). Karena lokasi Desa Sungai Puteri berada di wilayah barat dan tepat ditengah areal hutan konsesi Mopakha.

Tim PMDH melakukan PLUP (Participatory Land Use Planning) terhadap desa, yaitu mengkategorikan, mengukur, memetakan potensi sumber daya alam dan juga manusianya terhadap kondisi desa. Kondisi geografis Desa Sungai Puteri termasuk zona pendukung (buffer area) hutan konsesi Mopakha, berpusat dekat dengan pesisir dan jalan lintas Kabupaten Ketapang. Berada di lahan mineral dengan mayoritas lahan gambut, sehingga memiliki potensi untuk lahan pertanian padi jenis tertentu. Tim PMDH juga sedang mencoba untuk kegiatan restorasi mangrove di area desa Sungai Puteri.

Apa itu Jenjamut? Adalah sekelompok warga desa Sungai Putri yang memanfaatkan tanaman pandan liar yang tumbuh di sekitar untuk dijadikan polybag yang ramah lingkungan.

Wasisto Daru Darmawan, Konsultan FPIC (Free Prior Informed Consentdari YIARI menyampaikan bahwa, “Berangkatnya kegiatan ini dari dua permasalahan besar di Sentap Kancang, yaitu kebakaran & illegal logging. Sehingga muara dari semua kegiatan yang dilakukan oleh Community Development atau PMDH adalah untuk mengatasi illegal logging dan kebakaran. Strategi yang kami gunakan adalah dengan memberikan alternatif mata pencaharian, sehingga masyarakat dapat mengurangi intensitas untuk merambah hutan dan lahan.”

Rangkaian program yang disiapkan oleh tim PMDH adalah, kegiatan penanganan Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan). Pembuatan pupuk kompos, ini dilakukan sebagai pendukung dari kegiatan pertanian padi dengan jenis tertentu tadi. Kemudian kegiatan menganyam daun pandan hutan menjadi ecopolybag sebagai wadah untuk pembibitan mangrove.

Menurut Galih Hakim Antarnusa, Supervisor Community Development Sentap Kancang Sungai Puteri, “Di Desa Sungai Puteri banyak lahan pertanian padi, namun informasi dari masyarakat sering terjadi banjir rob atau masuk air asin, sehingga banyak lahan tidur yang awalnya sudah dibuka atau dipersiapkan, tapi saat ini belum dimanfaatkan lagi. Di desa ini juga mayoritas merupakan lahan gambut, sehingga ketika dimanfaatkan untuk menanam padi, hanya bisa untuk jenis padi yang bisa dipanen tahunan. Oleh karena itu, saat ini kita juga sedang mencoba untuk melakukan restorasi mangrove. Manfaat dari kegiatan ini adalah untuk melindungi areal pertanian di daerah pesisir dan memfasilitasi masyarakat dalam perlindungan kawasan mangrove. Ekosistem mangrove memiliki potensi yang sangat besar, yaitu sebagai habitat banyak satwa terutama satwa endemik seperti bekantan. Sehingga kalau mangrove terlindungi, masyarakat juga bisa mendapatkan manfaat.”

Kegiatan ini sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan penanaman mangrove seluas 400 Ha pada 2021. Menurut Muhammad Yusuf – Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dari Kementerian Kelautan dan Perikanan kepada Tempo.co, “Habitat mangrove yang baik dapat memberikan manfaat ketersediaan produksi ketam atau kepiting mangrove, ikan, cumi dan kerang.” 

Kemudian kegiatan menganyam ecopolybag yang menjadi wadah untuk bibit-bibit mangrove. Yang menarik di sini adalah para pengrajin ecopolybag ini merupakan sekelompok ibu-ibu di Desa Sungai Puteri dan kelompok mereka bernama Jenjamut. Jenjamut oleh masyarakat Desa Sungai Puteri berarti gambut. Di sini letak upaya pergerakan para ibu-ibu Jenjamut untuk mendukung restorasi mangrove di Desa Sungai Puteri.

Ecopolybag adalah polybag tempat meletakkan bibit tanaman, namun terbuat dari daun pandan hutan yang banyak tumbuh liar di sekitar Desa Sungai Puteri. Awalnya tanaman pandan hutan tersebut dianggap gulma, sehingga ketika masyarakat ingin membuka lahan untuk berkebun atau bertani, tanaman pandan ini dibuang atau dihilangkan. Sampai pada akhirnya masyarakat menemukan manfaat dari daun pandan hutan, yaitu bisa dianyam menjadi tikar dan kerajinan lainnya.

Polybag yang terbuat dari anyaman daun pandan ini memiliki nilai lebih dibandingkan dengan polybag plastik pada umumnya. Selain tidak meninggalkan sampah plastik yang menumpuk ketika setelah proses pemindahan bibit ke lahan penanaman, ecopolybag ini mempermudah proses pemindahan bibit karena tidak perlu membuka wadah bibit tetapi bisa langsung ditanam bersama wadahnya. Hal ini jelas menghemat tenaga dan waktu. Spesifikasi khusus dari ecopolybag ini adalah usia atau daya tahannya 1 – 3 bulan dan untuk tanaman jenis tertentu yang memiliki akar mengikat bisa sampai 4 bulan, sehingga sesuai untuk tanaman yang pembibitannya sekitar rentang waktu tersebut.

Saat ini program kegiatan ecopolybag masih pada tahap berjalan perlahan, karena masih perlu banyak pendampingan dari tim PMDH. Namun tim PMDH dan masyarakat tidak akan berhenti disitu saja, karena ini merupakan program untuk mendukung rangkaian program lainnya di Desa Sungai Putri. Seperti bayi belajar berjalan, dimulai dari merangkak, berdiri, berjalan, dan akhirnya bisa berlari. Saat ini tim PMDH sedang mengupayakan agar program ini bisa ke tahap selanjutnya yaitu berlari, namun tetap dengan bimbingan dan pengawasan oleh tim PMDH.

Tujuan dari program kegiatan PMDH ini seperti tadi sudah disampaikan, jelas sebagai alternatif mata pencaharian agar masyarakat tidak lagi beraktifitas di hutan melalui pertanian dan restorasi mangrove. Namun keberhasilan program kegiatan ini juga memerlukan dukungan dari banyak pihak lainnya. Seperti dukungan regulasi dan dana dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, atau perusahaan lain. Dukungan berupa teknologi, sarana dan tenaga dari lembaga akademis. Dukungan dari publik untuk terciptanya permintaan pasar. Yang terpenting adalah dukungan, kontribusi dan peran masyarakat sebagai pelaku atau pegiat usaha.

Harapan seorang Fasilitator Desa Sungai Puteri – Hamdan, “Agar masyarakat memahami manfaat dari program yang sedang diupayakan ini dan kesadaran mereka bahwa dampak ekonomi tidak bisa didapatkan secara instan. Restorasi mangrove ini sebagai upaya pemecahan masalah dari tanggul air asin yang sudah ada sering mengalami abrasi, sehingga berdampak buruk ke lahan pertanian padi. Semoga dari pemahaman masyarakat tersebut, perekonomian dan kehidupan di Desa Sungai Puteri menjadi lebih baik untuk masa depan kita sendiri dan anak cucu kita nantinya.”

Semoga upaya para anggota Jenjamut dapat menghasilkan secara ekonomi dan dapat bermanfaat dalam pelestarian lingkungan desa. Wow, sangat inspiratif untuk ditiru bukan?

Bagikan Artikel Ini:

Artikel Lainnya

18 February 2026

By mopakha

Model Ekonomi Berkelanjutan: Dari Benih Mandiri Hingga Skalabilitas Keramba di Tanjungpura

Di pesisir sungai Desa Tanjungpura, sebuah transformasi ekonomi sedang berlangsung….

Baca Selengkapnya

16 October 2025

By mopakha

Ketahanan Pangan Bisa Dimulai dari Desa: Budidaya Lele Desa Sukamaju

Ketapang, Kalimantan Barat — Di tengah tantangan logistik dan keterbatasan…

Baca Selengkapnya