Model Ekonomi Berkelanjutan: Dari Benih Mandiri Hingga Skalabilitas Keramba di Tanjungpura

Di pesisir sungai Desa Tanjungpura, sebuah transformasi ekonomi sedang berlangsung. Melalui ketekunan Kelompok Hijrah Bersama, budidaya ikan Nila kini bukan sekadar mata pencaharian tambahan, melainkan simbol kemandirian pangan desa yang berhasil menembus tonase luar biasa.

Menanam Benih Kemandirian

Keberhasilan ini diawali dengan strategi pengelolaan benih yang cerdas. Sejak memasuki siklus ketiga dan keempat, kelompok ini mulai beralih menggunakan benih pijahan mandiri yang dihasilkan dari indukan berkualitas di siklus sebelumnya.

Langkah ini terbukti sangat efektif secara ekonomi. Dengan asumsi harga benih sekitar Rp700,- hingga Rp1.000,- per ekor, efisiensi yang didapatkan dari benih pijahan mandiri ini telah berhasil menghemat biaya operasional hingga Rp14.469.000,-. Meski menghadapi tantangan alam dengan tingkat mortalitas rata-rata sementara sebesar 21,93%, semangat kelompok tetap tinggi seiring berjalannya Siklus 4 yang masih progresif hingga saat ini.

Panen Berkualitas yang Terukur

Bagi Kelompok Hijrah Bersama, kuantitas harus sejalan dengan kualitas. Ikan Nila yang dipanen memiliki standar berat rata-rata 250 gram/ekor, spesifikasi yang sangat diminati dan sesuai dengan permintaan pasar.

Hingga awal tahun 2026, perjalanan panjang budidaya ini telah mencatatkan rekam jejak yang solid:

  • 4 Siklus Budidaya yang berjalan berkesinambungan.
  • 7 Kali Sesi Panen yang telah terlaksana dengan sukses.
  • 4.396,01 Kilogram (sekitar 4,4 ton) total hasil panen sementara yang sudah berhasil dipasarkan.

Pencapaian ini membuktikan bahwa metode budidaya terukur adalah wujud nyata kemandirian ekonomi desa yang berkelanjutan.

Ekspansi Kapasitas: Scale-up Keramba

Melihat hasil yang menjanjikan, kapasitas produksi pun terus ditingkatkan melalui penambahan infrastruktur keramba. Dimulai hanya dengan 11 unit keramba pada siklus awal, kapasitas ini berkembang menjadi 18 unit pada siklus ketiga. Kini, pada siklus keempat, kelompok melakukan lompatan besar dengan melakukan scale-up hingga mencapai 37 unit keramba guna meningkatkan kapasitas produksi dan mengoptimalkan sistem manajemen panen berkala.

Kekuatan Kolaborasi

Keberhasilan ini tidak lepas dari sinergi kuat antara 11 anggota masyarakat Desa Tanjungpura yang tergabung dalam Kelompok Hijrah Bersama, dengan dukungan tim Commdev dari Yiari. Melalui kolaborasi dengan Mopakha, bantuan permodalan Ayo Bang Usman (Ayo Bangun Usaha Mandiri) menjadi mesin penggerak bagi warga untuk memulai dan mengembangkan usaha ini secara profesional.

Meski sempat mengalami kendala akibat gangguan oknum pemancing ilegal yang menggunakan alat setrum, kelompok ini tidak surut langkah. Mereka semakin solid dalam menjaga aset kemandirian pangan mereka.

Melalui program pemberdayaan masyarakat ini, perusahaan berharap model kemitraan di Desa Tanjungpura dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain dalam mengelola potensi lokal demi kesejahteraan bersama yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Bagikan Artikel Ini:

Artikel Lainnya

18 February 2026

By mopakha

Model Ekonomi Berkelanjutan: Dari Benih Mandiri Hingga Skalabilitas Keramba di Tanjungpura

Di pesisir sungai Desa Tanjungpura, sebuah transformasi ekonomi sedang berlangsung….

Baca Selengkapnya

16 October 2025

By mopakha

Ketahanan Pangan Bisa Dimulai dari Desa: Budidaya Lele Desa Sukamaju

Ketapang, Kalimantan Barat — Di tengah tantangan logistik dan keterbatasan…

Baca Selengkapnya