Panen Semangka Jadi Harapan Baru di Desa Tempurukan

Di Desa Tempurukan, sekelompok petani dari Kelompok Tani Gambut Jaya Bersama menunjukkan bahwa pertanian bisa menjadi jalan rezeki yang nyata. Pada 22 Maret 2025 mereka menanam semangka non-biji varietas Amara F1 di atas lahan seluas 2.500 meter persegi. Hanya dalam waktu 66 hari, pada 16 Mei 2025 semangka siap panen, dan hasil panen pertama mencapai 2.000 kilogram, langsung dibeli oleh pengepul di lokasi dengan harga Rp 6.500/kg. Para petani tidak perlu repot mencari pembeli—semangka langsung diambil dari kebun.

Anggota Kelompok Tani Gambut Jaya Bersama sedang menimbang Semangka hasil panen untuk langsung dibawa oleh pengepul.

Dok. Foto: Istimewa

Semangka dikenal sebagai buah yang menyegarkan karena mengandung sekitar 92% air, menjadikannya pilihan favorit masyarakat, terutama saat cuaca panas. Meskipun kandungan gizinya tergolong sedang, kelezatan dan kesegarannya membuat permintaan pasar tetap tinggi. (Kalie, 2002)

Proses budidaya semangka tergolong cepat dan efisien, hanya memerlukan waktu sekitar 60–75 hari sejak tanam hingga panen, tergantung kondisi lahan dan cuaca. Hal ini menjadikan semangka sebagai salah satu komoditas hortikultura yang menjanjikan secara ekonomi, terutama bagi petani kecil dan menengah.

Wilayah Indonesia memiliki banyak sentra penanaman semangka, mulai dari Aceh, Medan, Riau, hingga Pantai Utara dan Selatan Jawa. Untuk semangka non-biji, sebagian besar masih terpusat di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. (Prajnanta, 1999)

Kini, dengan hasil panen yang menjanjikan di Desa Tempurukan, peluang untuk mengembangkan budidaya semangka semakin terbuka di wilayah Kalimantan Barat, tidak kalah dengan wilayah lainnya di Indonesia. Hal ini juga didukung oleh data BPS tentang Produksi Tanaman Buah-buahan Indonesia 2021-2023 yang menunjukkan produksi semangka di Kalimantan Barat sebesar 4.987 ton pada tahun 2023, diharapkan produksi semangka di Desa Tempurukan berkontribusi pada peningkatannya di tahun 2025 ini.

Meski tantangan datang dari kondisi lahan yang sempat kering dan cuaca yang panas, petani tetap rajin melakukan penyiraman agar tanaman tumbuh baik. Hasilnya? Panen tetap lancar dan buah siap dipasarkan.

Setelah panen, Kelompok Tani Gambut Jaya Bersama berencana membersihkan lahan dan mengatur pengembalian dana sesuai kesepakatan, agar bisa kembali menanam dan memperluas usaha. Karena permodalan dari usaha Kelompok ini berasal dari Program Pemberdayaan Masyarakat hasil kolaborasi antara YIARI dan Mopakha, yaitu Ayo Bang Usman (Ayo Bangun Usaha Mandiri), dimana mekanismenya modal akan dikembalikan kepada Program, dan keuntungan akan menggunakan mekanisme pembagian hasil antara Program bersama Kelompok.

Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa bertani bisa menjadi sumber penghasilan yang baik, bahkan lebih aman dan berkelanjutan dibanding mengambil hasil dari dalam hutan. Dengan pengelolaan yang baik dan kerja sama yang kuat, pertanian bisa menjadi masa depan desa. Kalau dulu banyak yang mencari nafkah di hutan, sekarang saatnya mencoba jalan baru: bercocok tanam bersama sekaligus merawat bumi. Hasil panen bisa dinikmati, namun alam tetap lestari.

Daftar Pustaka:

Kalie, Moehd. Baga. 2002. Bertanam Semangka. Jakarta: Penebar Swadaya

Prajnanta, Final. 1999. Agribisnis Semangka Non-Biji. Jakarta: Penebar Swadaya


Bagikan Artikel Ini:

Artikel Lainnya

18 February 2026

By mopakha

Model Ekonomi Berkelanjutan: Dari Benih Mandiri Hingga Skalabilitas Keramba di Tanjungpura

Di pesisir sungai Desa Tanjungpura, sebuah transformasi ekonomi sedang berlangsung….

Baca Selengkapnya

16 October 2025

By mopakha

Ketahanan Pangan Bisa Dimulai dari Desa: Budidaya Lele Desa Sukamaju

Ketapang, Kalimantan Barat — Di tengah tantangan logistik dan keterbatasan…

Baca Selengkapnya