Jika keberadaan hutan jelas memiliki peran terhadap upaya pencegahan perubahan iklim, tetapi apakah pernah terlintas pemikiran mengapa orangutan termasuk satwa yang dilindungi, apa pentingnya keberadaan orangutan pada keberlangsungan hidup kita, dan lain sebagainya. Apakah selama ini kita peduli terhadap keberadaan orangutan semata-mata hanya sekadar menjaga agar orangutan tidak punah, sehingga agar anak cucu bisa melihat seperti apa wujud atau bentuk dari makhluk yang bernama orangutan.
Bagi kita yang tinggal di kota besar, orangutan yang sering kita lihat selain di acara televisi, ada di kebun binatang. Namun apakah kita menyadari apa manfaat atau korelasi dari keberadaan orangutan di alam liar dengan keberlangsungan hidup kita sampai dengan saat ini?
Penulis melakukan wawancara terkait kegiatan tim Keanekaragaman Hayati (biodiversity) dari YIARI (Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia) yang ditugaskan untuk mendampingi PT Mopakha (Mohairson Pawan Khatulistiwa) di area konsesi di Kabupaten Ketapang – Kalimantan Barat, yaitu kegiatan penelitian fenology dan pemantauan dengan camera trap.
Yang pertama kita akan membahas mengenai fenologi. Menurut Himpunan Profesi Mahasiswa Silvikultur Fahutan IPB, fenologi merupakan cabang ilmu ekologi yang mempelajari tentang respon makhluk hidup terhadap perubahan musim dan iklim di lingkungan tempat hidupnya, yang meliputi variasi lama penyinaran, presipitasi, suhu dan faktor pengatur lainnya (Delahaut 2004 dalam Prathama 2009). Pengamatan fenologi terkait dengan tumbuhan adalah mencakup saat munculnya bunga pertama, puncak pembungaan, akhir pembungaan, flushing, gugurnya daun, dan perubahan warna daun (Delahaut 2004 dalam Prathama 2009). Selain berguna dalam kegiatan pertanian, fenologi ini juga sangat berguna dalam kegiatan kehutanan khususnya bidang silvikultur. (https://tgc.lk.ipb.ac.id/2016/05/10/fenologi-kenapa-penting/)
Tim keanekaragaman hayati melakukan fenologi dengan mengamati fase-fase yang terjadi pada pohon, karena pohon memiliki fase pertumbuhan; bunga yang kuncup kemudian mekar, dari bunga tersebut akan ada buah, buah yang masih muda kemudian matang, atau bahkan mati. Tujuan dilakukan kegiatan fenologi adalah mereka ingin mengupayakan adanya perubahan ke arah yang lebih baik terkait dengan isu perubahan iklim yang saat ini sedang terjadi. Mereka juga ingin mengetahui apakah perubahan iklim memiliki pengaruh yang besar terhadap kondisi hutan di lahan gambut. Salah satu caranya dapat dilihat dari kondisi fenologi pohonnya.
Yang mereka lakukan saat ini adalah membuat plot di beberapa Desa yang berada di sekitar area konsesi PT Mopakha di Kabupaten Ketapang – Kalimantan Barat: yaitu Desa Ulak Medang, Tanjung Pura, dan Laman Satong, dimana ketiga desa ini merupakan akses masuk ke area konsesi. Dalam total area pengamatan sebesar 3 hektar, mereka membuat plot dengan ukuran sekitar 20 x 100 m sebanyak 5 buah plot di masing-masing desa. Kegiatan pemantauan pohon ini rutin dilakukan setiap bulannya.
Kemudian kegiatan selanjutnya yaitu pemasangan camera trap di dalam area konsesi, yaitu tujuan awalnya adalah untuk mengetahui keberadaan satwa target yang tergolong predator, yaitu kucing-kucingan (Felidae). Karena salah satu indikator sebuah ekosistem dapat dinyatakan seimbang, yaitu dengan adanya kehadiran satwa predator pada suatu ekosistem. Sehingga ekosistem tersebut berada dalam kondisi yang baik untuk dihuni oleh satwa lain yang hidup di dalamnya, termasuk juga untuk orangutan. Menurut Kanthi Hardina S.Hut M.Si, Manajer Keanekaragaman Hayati YIARI, “Kelebihan pengamatan menggunakan camera trap dibanding dengan pengamatan konvensional adalah kita bisa memantau satwa-satwa elusif dan cryptic yang jarang atau bahkan tidak kita jumpai saat pengamatan langsung. Namun kekurangannya adalah butuh biaya yang besar serta resiko alat yang rusak di lapangan masih sangat tinggi.”
“Kucing memainkan peran penting dari sisi ekologis, yaitu sebagai predator,” tutur Sunarto, Pakar Ekologi dari Virginia Tech dan WWF Indonesia dalam penjelasannya kepada Mongabay. “Kucing berperan memegang kendali bagi populasi dan perilaku satwa lainnya, terutama mengontrol jumlah populasi satwa mangsa mereka. Hal ini selanjutnya akan mempengaruhi vegetasi dan ekosistem keseluruhan, termasuk landskap.”

Berita yang membahagiakan dari data yang disampaikan oleh tim Keanekaragaman Hayati adalah ternyata ditemukan 2 jenis kucing-kucingan di area konsesi PT Mopakha, yaitu ada Kucing Batu alias Marbled Cat (Pardofelis marmorata) dan Kucing Kuwuk (Prionailurus bengalensis). Hal ini menandakan bahwa ekosistem di area tersebut tergolong seimbang. Kucing ini termasuk satwa yang dilindungi sesuai PP No.7/1999 tentang pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar, serta Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.106/2018.
Sehingga kesimpulannya, fase pertumbuhan pohon saling mendukung dengan keberadaan orangutan. Orangutan berperan penting dalam penyebaran benih atau bibit tanaman di dalam hutan. Ketika satwa makan buah yang tersedia di dalam hutan, kemudian biji dari buah yang tidak termakan dan atau yang termakan terproses melalui feses sehingga bisa tumbuh menjadi pohon, di sini lah terjadi keseimbangan. Keberadaan hutan adalah sebagai habitat untuk satwa lainnya, termasuk orangutan. Jika keseimbangan di dalam hutan terjaga, maka fungsinya seperti yang sudah kita tahu yaitu sebagai penghasil oksigen terbesar di bumi. Sehingga sekarang kita mengerti bahwa orangutan memiliki peran penting pada upaya mitigasi perubahan iklim, yakni orangutan ikut menjaga keseimbangan ekosistem pada hutan, khususnya yang dibahas di sini adalah yang terjadi di area konsesi PT Mopakha.
Yang perlu dipertanyakan kepada diri kita sendiri adalah keberadaan kita sebagai manusia yang saat ini hidup jauh dari hutan: Apa peran kita terhadap upaya mencegah perubahan iklim yang sedang terjadi?
Author: Mayo for PT Mohairson Pawan Khatulistiwa. 2021


