Petani Ketapang Olah Limbah Jadi Pupuk

Berawal dari latar belakang masalah harga pupuk kimia yang semakin mahal, pada tahun 2021 di dusun Kali Baru, desa Sungai Awan Kiri, program pemberdayaan masyarakat oleh YIARI (Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia) yang bekerjasama dengan PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (Mopakha) melakukan upaya untuk mengatasi masalah ini dengan pengolahan pupuk organik.

Diimplementasikan melalui pendampingan di bidang pertanian, penanggulangan hama dan penyakit pada tanaman pertanian, pembuatan pupuk organik dan juga mangrove, yang sebelumnya telah dilakukan riset berdasarkan komoditi, posisi wilayah desa dan mayoritas pekerjaannya adalah petani dan nelayan. Namun kali ini yang akan dibahas adalah pupuk organik. Mengapa pupuk organik? Karena pupuk organik terbuat dari bahan-bahan yang selama ini sudah ada di sekitar dan bisa didapatkan dengan cuma-cuma.

Selama ini masyarakat di desa Sungai Awan Kiri belum optimal dalam pemanfaatan limbah pertanian, terutama jerami dan sekam padi. Jadi dengan pendampingan yang dilakukan agar masyarakat dapat memanfaatkan limbah pertanian yang ada secara optimal. Pupuk organik cair dan pupuk kompos diharapkan dapat menjadi sebagai pengganti pupuk kimia yang selama ini digunakan oleh masyarakat.

Sebelum masyarakat mengetahui cara mengolah sisa dari hasil pertanian, seperti: jerami atau sekam padi, bahan-bahan tidak terpakai itu hanya dibakar, tidak dimanfaatkan karena dianggap sebagai limbah. Untuk membuat pupuk organik cair selain dari bahan-bahan tersebut, dapat memanfaatkan limbah bahan lain juga, seperti: pepaya, pisang, atau buah dan bahan makanan lain yang sudah membusuk. 

Tidak hanya pupuk, pestisida sebagai pengendali hama juga menggunakan bahan alami atau biasa disebut pestisida nabati, terbuat dari bahan-bahan alami seperti: akar toba, brotowali, daun ketepeng, lengkuas, dan lainnya. Inovasi yang dilakukan Pak Amat, yang merupakan Ketua Kelompok Tani Karya Baru di desa Sungai Awan Kiri, bahkan dapat menghasilkan Pupuk Organik Cair yang juga sebagai anti hama serangga, dimana pada awal pendampingan yang diajarkan adalah pembuatan pupuk organik cair sekaligus anti hama tikus, namun karena modifikasi dan inovasi Pak Amat, dengan pestisida nabati itu bisa menjadi anti serangga juga. Namun memang memerlukan kesabaran dan waktu yang lebih panjang dalam proses pengolahan bahan baku dan pengaplikasian pestisida nabati ini.

Kelebihan lainnya dari pupuk organik dan pestisida nabati ini adalah tidak membuat tanah mengalami kerusakan seperti turunnya nutrisi unsur hara, ketergantungan pada dosis pupuk. Bahkan dapat membuat hasil panen setelahnya menjadi meningkat hanya dengan menggunakan dosis yang sama sejak awal mula pemakaian. Berbeda dengan penggunaan pupuk kimia, yang pemberiannya harus naik dosis setiap penggunaan untuk mendongkrak hasil panen dan dapat membuat unsur hara pada tanah menjadi rusak, tanah menjadi kering dan pecah sehingga semakin sulit untuk ditanami dan menghasilkan panen yang baik.

Berbeda dengan keadaan di desa Kuala Tolak, kabar terakhir pada Desember 2022 ini pertanian padi di desa ini sedang terkena hama daun seluas 900 m persegi dari total luas demplot pertanian 1,800 m persegi, sehingga masyarakat desa sedang berupaya mengolah pestisida nabati (pesnab) untuk mengatasi hama daun ini. Pestisida nabati ini terbuat dari daun Ketepeng, lengkuas, brotowali, akar tuba yang dihaluskan dilarutkan dengan air, didiamkan selama 24 jam, kemudian disaring, maka pesnab sudah siap digunakan. Digunakan sesuai dosis 1 liter bahan dasar setiap 16 liter air. Pesnab ini diberikan di bagian daun setiap 7-10 hari sekali sampai titik-titik kuning di daun hilang.

Beranggotakan 15 orang, dengan 10-12 orang yang aktif di dalam program, baik dari segi pertanian maupun pembibitan atau penanaman mangrove. Dengan program pemberdayaan yang saat ini baru berjalan 5 bulan, tahapan yang dilakukan dari pertanian adalah menandur tanah untuk persiapan penanaman padi.

Harapan dari program kegiatan pendampingan ini dan semua pihak pelaksana adalah proses penanaman yang diberikan bahan-bahan alami, akan menghasilkan media tanam yang jauh lebih sehat dan panen yang juga lebih baik.

Bagikan Artikel Ini:

Artikel Lainnya

18 February 2026

By mopakha

Model Ekonomi Berkelanjutan: Dari Benih Mandiri Hingga Skalabilitas Keramba di Tanjungpura

Di pesisir sungai Desa Tanjungpura, sebuah transformasi ekonomi sedang berlangsung….

Baca Selengkapnya

16 October 2025

By mopakha

Ketahanan Pangan Bisa Dimulai dari Desa: Budidaya Lele Desa Sukamaju

Ketapang, Kalimantan Barat — Di tengah tantangan logistik dan keterbatasan…

Baca Selengkapnya