Salah satu upaya PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (Mopakha) dalam menjaga ekosistem gambut di Kalimantan Barat secara berkelanjutan saat ini didukung oleh sumber daya manusia yang memiliki tujuan yang sama, yaitu mencegah kebakaran hutan dan lahan sekitar area konsesi Mopakha.
Masyarakat yang ikut berkontribusi sebagai karyawan dan juga Tenaga Harian Lepas (THL) yang mendukung upaya Mopakha ini, berada di lokasi terdekat dengan bahaya karhutla. Mereka sangat menyadari bahwa jika terjadi kebakaran hutan dan lahan di sekitar area konsesi Mopakha, desa tempat tinggal mereka juga akan langsung terkena dampaknya, sehingga mereka menyambut baik kesempatan untuk bisa ikut menjaga sekitar area tempat tinggal mereka. Hal ini juga bermanfaat sebagai mata pencaharian alternatif bagi masyarakat yang dahulu adalah logger atau beraktifitas di dalam hutan area konsesi Perusahaan sebagai mata pencahariannya.
Beberapa kegiatan peningkatan kapasitas secara rutin yang sudah dilakukan oleh Tim Perlindungan dan Pengamanan Hutan (PPH) Mopakha, diantaranya: simulasi pemadaman kebakaran, pendalaman materi dan juga pelatihan terkait kebakaran hutan dan lahan, latihan fisik rutin, sharing knowledge dan sosialisasi kepada masyarakat desa, patroli sekitar area konsesi, dan lain-lain.
Tim PPH Mopakha sudah melakukan patroli rutin untuk monitoring kegiatan di sekitar area konsesi, juga didukung oleh ketersediaan infrastruktur yang mumpuni menggunakan aplikasi sistem smart patrol dan yang lainnya sehingga bisa menjangkau akses kondisi hingga tingkat bawah. Untuk solusi yang diupayakan agar tingkat aktivitas di hutan menurun, dengan memberikan alternatif mata pencaharian dan juga edukasi pelatihan masyarakat tentang bahaya karhutla. Dijelaskan oleh Andrian Kurniawanto selaku Manajer PPH PT Mopakha, “Kita masih dalam tahap monitoring, misalnya ada berapa kejadian, kemudian pembuatan laporan dan melakukan edukasi atau sosialisasi kepada mereka. Biasanya tim melakukan diskusi dengan masyarakat di desa untuk sosialisasi dan edukasi terkait dengan karhutla ini.”
Tim PPH di Mopakha sendiri terdiri dari banyak anggota karena saat ini tahun 2025 sudah ada 6 Pos, yaitu: Pos Mayak, Sungai Awan Kiri (saat ini bergabung dengan Persemaian), Sukamaju , Ulak Medang, Laman Satong dan Tanjung Baik Budi, dengan tambahan Pos Bersama di Benipis. Teman-teman di lapangan yang bertugas di Pos adalah masyarakat yang berasal dari Desa sekitar area Pos.
Data yang disampaikan oleh Mopakha tahun 2020-2021 sudah mempekerjakan THL yang sudah berkontribusi pada bidang PPH sebanyak 371 orang, dengan rentang usia mayoritas 20-30 tahun. Dan dari bidang Pembinaan Hutan (Binhut) dan Research and Development (RnD) memerlukan THL menyesuaikan dengan kebutuhan misalnya ketika waktunya untuk melakukan penanaman di demplot yang sudah ditetapkan, untuk 2020-2021 lalu tim Binhut sudah mempekerjakan 28 orang dalam 1 tahun terakhir ini. Selanjutnya dari bidang Research and Development (RnD) juga menggunakan jasa THL menyesuaikan dengan kebutuhan misalnya ketika melakukan kegiatan survei tanggul yang pernah dilakukan.
Berbagai kegiatan dilakukan sebagai anggota tim PPH di lapangan, seperti disampaikan oleh Ketua Regu dari Pos Mayak, M. Sukandar, “Sehari-hari teman-teman di Pos dibekali keahlian dasar dengan rutin melakukan kegiatan simulasi pemadaman kebakaran baik dengan menggunakan alat atau mekanis maupun secara manual, latihan ketahanan fisik, patroli keliling area konsesi, pendalaman materi tentang ilmu cara membaca situasi di lapangan, arah mata angin, cuaca, perilaku api, topografi dan lain sebagainya, juga penanaman sekat bakar.” Penjelasan tentang sekat bakar oleh Edy Rahmat, Koordinator Desa Tanjung Pura, “Sekat bakar di sini adalah tanaman yang lebih tahan terhadap api, jadi semak belukar akan lebih mudah terbakar jika ada api, maka tanaman tersebut dibersihkan dan ditanami dengan tanaman lain yang lebih tahan dengan api. Saat ini kita menanam tanaman Gelam sebagai sekat bakar.”
Hal ini disambut baik oleh masyarakat desa sekitar area konsesi, dilihat dari antusiasme mereka ketika musim perekrutan THL. “Keinginan masyarakat untuk bergabung dengan Mopakha itu tinggi, hanya saja saat ini kemampuan penyerapan tenaga kerja oleh perusahaan belum bisa memenuhi seluruh keinginan masyarakat,” ujar Masdianto, Koordinator Desa Sungai Awan Kiri.
Beberapa hal yang menjadi motivasi masyarakat sekitar desa untuk bergabung menjadi tim PPH antara lain menurut Abdul Riyad, Koordinator Pos Sukamaju yang bertugas sebagai Ketua Regu, “Yang memotivasi untuk bergabung menjadi tim PPH adalah untuk menjaga lingkungan di sekitar sini, karena di sini merupakan tempat tinggal dan kampung kami juga. Saya juga berharap agar masyarakat lebih sadar akan bahayanya kebakaran hutan.” Sedangkan Edy Rahmat, Koordinator Desa Tanjung Pura menyampaikan bahwa, “Saya bergabung dengan tim PPH karena kesadaran akan parahnya dampak dan bahaya dari kebakaran hutan yang dulu pernah terjadi, ketika itu udara sudah tidak dapat dihirup bebas seperti saat ini. Belajar dari pengalaman sebelumnya, saya ingin ikut menjaga desa dan tempat tinggal saya.”
“Motivasi saya adalah ketika terjadi karhutla, 1 orang yang memiliki keterampilan memadamkan api akan lebih bermanfaat jika bisa membagikan ilmu dan pengalamannya kepada warga 1 desa yang belum mengetahui bagaimana cara memadamkan karhutla. Dan harapan saya agar perusahaan dapat berkembang lebih maju sehingga daya serap tenaga kerjanya juga semakin besar,” tutup Masdianto, Koordinator Desa Sungai Awan Kiri.

