Sekat Parit

Mitigasi Karhutla Ketapang Lewat Sekat Parit

Tingkat serapan pada air gambut yang semakin berkurang dan kejadian karhutla berulang menjadi latar belakang Mopakha untuk segera merencanakan pembangunan sekat kanal darurat di beberapa titik pada kanal atau parit di sekitarnya.

Dengan menerapkan prinsip mengatur volume air yang keluar dari kanal dan dengan tujuan utama untuk menjaga keberadaan air tetap dalam kondisi tersimpan pada gambut, sehingga prosedur ini menjaga muka air tanah pada gambut tetap tinggi dan menghindari resiko kebakaran. Hal ini juga dapat didukung dengan memperbaiki vegetasi, dengan cara melestarikan tumbuhan yang berada di sekitarnya. Dengan melakukan penanaman kembali, dapat membantu pemulihan gambut yang rusak, walaupun akan membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk pemulihan kembali ini.

Secara umum kondisi di sekitar konsesi dan di dalam konsesi Mopakha merupakan tanah gambut dengan bahan bakar sangat melimpah, dan banyak terdapat parit yang mengeluarkan air dalam jumlah banyak, sehingga diperlukan upaya pengelolaan air yang tepat. Untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan dari departemen Research and Development Mopakha melakukan upaya mitigasi melalui pengaturan tinggi muka air tanah. 

Dampak langsung dari turunnya tinggi muka air gambut adalah tingkat serapan air yang berkurang, karena air yang seharusnya tersimpan dalam gambut menjadi teralirkan di kanal dan parit-parit kecil di sekitarnya, dengan dampak turunannya adalah terjadinya banjir ketika musim hujan di jalur limpasannya, dan pada musim panas tingkat kekeringan gambut cepat terjadi yang menyebabkan potensi kebakaran menjadi meningkat.

Pola kejadian titik api (hot spot) di sekitar konsesi Mopakha di tahun 2015 dan 2019 diawali dari kejadian-kejadian kebakaran di pesisir barat dan timur konsesi, hingga menuju area konsesi. Kejadian kebakaran besar di tahun 2015 dan 2019 tersebut terjadi pada bulan Agustus – September. Kondisi bahan bakar dari tanah gambut yang melimpah di sekitar konsesi dan mudahnya akses masyarakat untuk berkegiatan menjadi kekhawatiran yang perlu dilakukan upaya pencegahan yang cepat dan tepat, agar kejadian kebakaran besar di tahun 2015 dan 2019 tidak terulang kembali di tahun selanjutnya.

Bersama beberapa instansi terkait seperti: Polsek Matan Hilir Utara dan Muara Pawan, TNI, KPH Selatan, BPBD, Daops Manggala Agni, Perkim LH, jajaran Pemerintah Desa sekitar, PT Mopakha telah melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) membahas mengenai kegiatan survei untuk kegiatan penyekatan kanal/parit ini. Kegiatan survey identifikasi risiko kebakaran di wilayah pesisir barat dilakukan hingga masuk ke Kawasan HPK (Hutan Produksi Konversi) sehingga dalam pelaksanaan survey perlu didampingi oleh pemangku Kawasan yaitu UPT KPH Wilayah Selatan.

Sekat kanal, atau biasa dikenal dengan pagung parit darurat diharapkan dapat mengurangi turunnya tinggi muka air gambut di sekitarnya, sehingga meningkatkan luas areal pembasahan di sekitarnya sampai pada radius tertentu, dapat menjaga area sekitar pagung tetap lembab sehingga api akan lebih sulit membakar, dan sebagai sumber air untuk Tim yang melakukan pemadaman saat terjadi kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.

Bagikan Artikel Ini:

Artikel Lainnya

18 February 2026

By mopakha

Model Ekonomi Berkelanjutan: Dari Benih Mandiri Hingga Skalabilitas Keramba di Tanjungpura

Di pesisir sungai Desa Tanjungpura, sebuah transformasi ekonomi sedang berlangsung….

Baca Selengkapnya

16 October 2025

By mopakha

Ketahanan Pangan Bisa Dimulai dari Desa: Budidaya Lele Desa Sukamaju

Ketapang, Kalimantan Barat — Di tengah tantangan logistik dan keterbatasan…

Baca Selengkapnya