Program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan di desa Tanjung Baik Budi oleh YIARI (Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia) yang bekerjasama dengan Mopakha lebih menyasar ke potensi komoditi selain pertanian padi. Pendampingan untuk masyarakat yang dijalankan yaitu tebu, mangrove, pupuk organik cair dan perikanan. Pertanian padi di sini sudah ada dan berjalan dari program desa sendiri, sehingga mayoritas penduduk desa Tanjung Baik Budi bermata pencaharian sebagai petani padi.
Untuk desa Tanjung Baik Budi sudah dianggap berhasil menjalankan ujicoba perkebunan tebunya, namun posisi Desa Tanjung Baik budi adalah daerah pesisir, yaitu sebagian wilayahnya dekat dengan pantai. Hal ini menyebabkan pada waktu tertentu, areal pertanian dan perkebunan mereka terkena banjir air rob atau air laut. Jika ini terjadi sudah pasti merusak hasil kebun dan tanaman padi mereka. Disampaikan oleh Yandri Candra, Fasilitator Desa Tanjung Baik Budi, “Kendala kita untuk sementara waktu ini hanya pengairan. Area kami sering banjir jika air sedang naik dan sebaliknya jika musim kemarau menjadi terlalu kering itu saja, untuk masalah hama tidak terlalu banyak.”
Menurut data yang dirilis oleh KLHK tahun 2022 di indonesiabaik.id (salah satu media milik Kominfo), “Jika dibandingkan, luas mangrove itu hanya kurang lebih 2% dari total luas hutan di Indonesia. Meski begitu, mangrove Indonesia tetap mampu menyimpan karbon sekitar 10% dari semua emisi yang ada.” Dari data ini jelas nyata manfaat tanaman mangrove tersebut untuk penyerapan emisi, tidak lupa bahwa ekosistem mangrove yang sehat juga dapat menjadi rumah bagi kepiting, kerang dan beberapa jenis ikan lainnya. Hal ini menciptakan potensi komoditi lain di desa Tanjung Baik Budi. Tidak sampai disitu, diharapkan dengan adanya mangrove di area pesisir dapat menjadi penghalang air laut alami untuk masuk ke area pertanian dan perkebunan mereka. Dilansir dari Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, “Mangrove sebagai sabuk hijau atau green belt karena sejumlah kawasan pesisir dengan tingkat kelebatan hutan mangrove yang tinggi, ternyata mampu menekan laju gelombang pasang, sehingga resiko yang diakibatkan tidak akan sebesar kawasan pesisir lain yang tak memiliki mangrove.”
Ibarat cabang olahraga karate, upaya masyarakat desa untuk “naik” ke sabuk hijau dimulai dari program pendampingan mangrove yang dilakukan oleh perusahaan pada tahun 2021 dengan 15 anggota kelompok yang aktif, dilakukan tahap persiapan, perawatan 3,000 bibit mangrove jenis Rhizophora Mucronata dan Rhizophora Stylosa. Penanamannya dilaksanakan di tahun yang sama. Kemudian pada tahun 2022 meningkat menjadi 5,000 bibit dan juga sekaligus penanamannya. Area penanaman meluas, mengelilingi area pertanian padi penduduk. Sebagai pelindung dari air laut yang naik, di sini letak salah satu fungsi sabuk hijau tersebut.
Semoga Tanjung Baik Budi berhasil “naik” ke sabuk hijau!!


